banner 2560x598

banner 2560x598

FNI Minta KKP Taati Putusan MK, Batalkan Regulasi

  • Bagikan
Ketua Front Nelayan Indonesia, Rusdianto Samawa bersama DPP HNSI
Ketua Front Nelayan Indonesia, Rusdianto Samawa bersama DPP HNSI
banner 468x60

WIDEAZONE.com, JAKARTA | Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi [MK] menyatakan bahwa Undang Undang [UU] Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja bertentangan dengan UU Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat.

Selain itu, MK juga menyatakan untuk menangguhkan segala tindakan atau kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas, serta tidak dibenarkan pula untuk menerbitkan peraturan pelaksana baru yang berkaitan dengan UU 11/2020 tentang Cipta Kerja [Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2020 nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573].

Dengan demikian, berdasarkan pada putusan MK itu, sebaiknya Kementerian Kelautan dan Perikanan [KKP] rehat sejenak dalam menyusun peraturan Menteri [Permen] dan Keputusan Menteri [Kepmen] seputar pengelolaan perikanan tangkap dan budidaya.

“KKP harus mentaati putusan MK itu, agar membatalkan seluruh regulasi yang sudah diterbitkan maupun belum diterbitkan. Sehingga kebijakan KKP tidak absurd di masa depan. Karena peraturan turunan yang sebagian sudah diterbitkan seperti PP 85 tahun 2021, Kepmen 75 tahun 2021 tentang mekanisme penarikan PNBP perikanan, Kepmen 98 tentang produktivitas kapal perikanan dan Kepmen 97 tahun 2021 tentang Harga Patokan Ikan untuk Penghitungan Pungutan Hasil Perikanan.” Kata Rusdianto Samawa selaku Ketua Umum Front Nelayan Indonesia [FNI] dalam keterangan siaran pers tertulis kepada media. Sabtu [27/11/2021].

Seluruh rencana kebijakan yang ditopang oleh regulasi yang memberi karpet merah pada asing untuk menguasai laut Indonesia. Maka bertentangan dengan UUD 1945 dan asas pancasila.

Faktanya, WPPNRI dan pelabuhan untuk perusahaan perikanan berskala menengah dan besar dengan harus memiliki modal usaha 200 miliyar, sebagai syarat mendapat kuota tangkap ikan dan membayar PNBP sistem pasca bayar. Maka hal demikian, termasuk menjajah dan mencekik pengusaha dalam negeri.

“Apalagi kebijakan tersebut, harus memiliki modal usaha sebanyak itu. Tentu, nelayan-nelayan yang memiliki kapal – kapal 30 gross ton ke bawah tidak akan bisa memenuhi syarat tersebut. Secara otomatis juga mematikan usaha – usaha koperasi masyarakat pesisir. Karena isi laut habis dikeruk. Sementara nelayan pribumi tak dapat apa-apa,” jelas Rusdianto

Artinya rencana kebijakan lelang kuota tangkap ikan itu tidak sesuai dengan Pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945. Kementerian Kelautan dan Perikanan harus batalkan rencana lelang kuota ikan.

“Jangan alasan, pemerintah membutuhkan investasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai negara lain. Lalu perikanan tangkap, budidaya, pengolahan produk dan pemasaran serta diizinkan beroperasinya kapal-kapal asing. Hal inilah yang dianggap liberalisasi terhadap sektor-sektor kelautan dan perikanan. Ya, tentu tak sesuai UUD 1945. Maka harus dibatalkan rencana kebijakan tersebut.”

Sangat khawatir ke depan, modus kebijakan tersebut, mengarah pada illegal fishing dan monopoli perusahaan perikanan skala besar dalam melakukan kegiatan tangkap ikan di laut Indonesia.

“Belum lagi, soal perizinan yang masih marak terjadi penyalahgunaan perijinan penangkapan ikan. Salah satunya adalah terkait rencana kebijakan yang medahulukan status perusahaan perikanan berskala besar dari luar negeri.” Kata Rusdianto

Kalau baca dan analisis Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan [Kepmen] 97 tahun 2021 dan Kepmen 98 tahun 2021, itu bukan karena pihak perusahaan asing yang datang sendiri ikut tender. Tetapi tim counter beauty yang dibentuk KKP sendiri yang mengumpulkan, memanggil, mencari dan menetapkan perusahaan mana yang mendapat kuota lelang tangkap ikan.

“Berarti ada mobilisasi kapal asing secara luas, bahkan prediksi capai ribuan kapal asing tangkap ikan di Indonesia.” kata Rusdianto

Sebaiknya Kementerian KKP berbenah dengan strategi lain. Tanpa harus menyakitkan perasaan masyarakat pesisir Indonesia. [Abr]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *