Pengarsifan Kopi Tradisional yang Dijadikan Buku Bacaan

- Jurnalis

Senin, 16 Desember 2019 - 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan,Aufa Syahrizal AP MSc

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan,Aufa Syahrizal AP MSc

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan menyadari bahwa kopi tradisional daerah ini perlu dilestarikan. Karena aroma kopi bubuk yang diolah secara tradisional mampu memberi kenikmatan yang luar biasa.

“Terkait kopi tradisional seperti yang digemari masyarakat internasional tersebut, kami mencoba memgarsipkan pembudidayaan kopi Sumsel secara tradisional,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal AP MSc, ke pada Wideazone.com dan ZoomPost, di ruang kerjanya, Senin (16/12/2019).

Menurut Aufa, pengelolaan kopi aecara tradisional itu sudah jarang dilakukan masyarakat petani kopi di Sumatera Selatan. Paling tidak, katanya, ketika mereka panen, kopi-kopi itu mwreka jual ke pada perusahaan yang biasa menerima kopi-kopi petani tradisional Sumsel.

Setelah kopi-kopi itu terjual, kata Aufa, mereka diproduksi secara moderen dengan peralatan moderen. Bahkan kopi yang sudah digarap menjadi bubuk, dibubuhi serpihan susu sehingga tak ada lagi nilai-nilai tradisional ketika dikonsumsi masyarakat.

Kerena itu, kata Aufa, agar penggarapan kopi rakyat dapat diolah dengan cara-cara tradisional, maka pihaknya melalukan upaya pengarsifan secara tertulis.

Baca Juga:  Bidar Kembali Berpacu di Sungai Musi, 7 Ulu Jadi Pusat Festival HUT RI

Baik ditulis dari segi penggarapan awal, misalnya memilih potensi bibit yang baik dan berkualitas, memilih areal perkebunan dengan kontur tanah yang tepat untuk membudidayakan kopi setempat.

Menurut Aufa, segala teori dan unsur dasar pengerjaan kopi secara tradisional itu kota arsifkan melalui tulisan yang baik. “Untuk tulisan kopi secara tradisional ini kita percayakan ke pada penulis atau sastawan Sumsel, Anto Narasoma,” katanya.

Si penulis dan rombongan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel sengaja turun ke lapangan untuk memperoleh bahan pengolahan kopi secara tradisional dari petani bersangkutan.

Untuk mengetahui bagaimana para petani kopi memilih bibit dan tanah yang tepat agar budidaya kopi itu bisa subur dan berkembang baik untuk menghasilkan biji-biji kopi yang baik dan berkualitas.

“Saya gembira ketika membaca hasil tulisan tentang bagaimana cara orang-orang dulu memproduksi kopi yang nikmat dan beraroma khas tradisional.

Yang membuatnya menarik untuk memgetahui cara bagaimana mencari lahan dengan kontur tanah yang cocok untuk membudidayakan kopi Pagaralam, Muaraenim, Semendo dan Lahat.

“Menariknya, sebelum ditanami kopi, para leluhur mencoba mencicipi serpihan tanah dengan mulutnya terlebih dahulu. Dari sisi ini akan diketahui tingkat hara, humus tanah, muatan energi dasar yang dapat menyuburkan lahan perkebunan kopi,” katanya.

Biasanya, bibit kopi itu dipilih teelebih dahulu. Kemudian menanam tanaman pelindung di kiri-kanan kebun. Setelah waktunya tiba, kopi-kopi yang masak segera dipanen. Saat penyangraian, kata Aufa, dilakukan dengan wajan (kuali) tradisional dari tembikar. “Kalau sekarang warga tradisional menggongseng kopinya dengam wajan besi. Jika kopinya matang akan menumbuhkan aroma yang sangat luar biasa.

Baca Juga:  Bidar Kembali Berpacu di Sungai Musi, 7 Ulu Jadi Pusat Festival HUT RI

“Secara tradisonal kopi-kopi yang sudah matang itu diendapkan dahulu selama beberapa hari. Setelah itu mulai ditumbuk dengan alu di lumpang kayu,” tukas Aufa.

Pengelolaan dengan cara tradisional semacam ini memang diharapkan masyaraktat. Selain enak, ketika kopi ini dikonsumsi, dapat memberi kesegaran. (*)

Laporan Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma

Berita Terkait

Bidar Guncang Musi, Ribuan Warga Tumpah Meski Panas Menyengat
Bidar Kembali Berpacu di Sungai Musi, 7 Ulu Jadi Pusat Festival HUT RI
Gubernur Herman Deru Dukung Palembang Tourism Forum 2026
Palembang Siap Jadi Magnet Event Nasional, Aprizal Hasyim: Kejuaraan Marching Band Dongkrak PAD
Sumsel Tuan Rumah Konferensi Anxi Sedunia, Gubernur Herman Deru Harap Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata
Ampera Tourism Run 2026: dari Jantung Palembang untuk Indonesia
135 Calender of Charming 2026 Resmi Diluncurkan
Gubernur Herman Deru Harap BSI Dukung Sriwijaya Ranau Gran Fondo

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Bidar Guncang Musi, Ribuan Warga Tumpah Meski Panas Menyengat

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:37 WIB

Bidar Kembali Berpacu di Sungai Musi, 7 Ulu Jadi Pusat Festival HUT RI

Selasa, 19 Mei 2026 - 21:57 WIB

Gubernur Herman Deru Dukung Palembang Tourism Forum 2026

Rabu, 4 Maret 2026 - 18:45 WIB

Palembang Siap Jadi Magnet Event Nasional, Aprizal Hasyim: Kejuaraan Marching Band Dongkrak PAD

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:23 WIB

Sumsel Tuan Rumah Konferensi Anxi Sedunia, Gubernur Herman Deru Harap Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata

Berita Terbaru