Masihkah Harapan Semu Terhadap DPR

- Jurnalis

Rabu, 2 Oktober 2019 - 20:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivis dan Pemuda, Andrei

Aktivis dan Pemuda, Andrei

PEMILIHAN Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) 2019 telah diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu, dan telah berhasil  memilih anggotanya masing-masing, baik di pusat dan provinsi maupun daerah kabupaten/kota se-Indonesia untuk periode 2019-2024.

Aktivis Pemuda Andrei utama yang sering disapa “bung rei” mengatakan, secara umum, ada gejala munculnya harapan semu saat ada sirkulasi Publik masih sulit berharap perubahan sikap, tabiat kolektif, dan perbaikan mendasar para wakil rakyat di tengah kompleksitas hubungan politik yang kerap kali bersifat transaksional.

Padahal kalau mau meraba kehendak publik sebagai pemilih mandat kuasa, paling tidak ada tiga harapan rakyat selama ini yang seharusnya dijalankan optimal pada anggota DPR Dan DPRD baru.

Untuk itu kinerja yang maksimal dan berubah dari utopis ke realistis. Misalnya jangan memasang target program yang muluk-muluk kuantitasnya, tetapi tidak pernah tercapai. Lebih baik pasang target yang benar-benar dikerjakan tuntas dan bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat.

Memperkuat politik representasi, terutama dengan basis konstituen yang diwakilinya. Jangan terus-menerus berulang kajadian, rakyat tak mengenal atau tak merasa dekat dengan wakilnya. Politik representasi bukan dilakukan hanya menjelang pemilu dengan mengguyur pemilih lewat uang dan sejumlah alat persuasi lain. Menampung aspirasi, mengakomodir persoalan-persoalan publik yang berkembang di dapilnya serta memastikan bahwa mereka bisa menyuarakan apa yang tak bisa disuarakan oleh rakyat kebanyakan.

Baca Juga:  Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Soal integritas, saat dilantik dan berikrar sebagai wakil rakyat, sudah seharusnya para anggota DPR meyakini, dia memiliki posisi yang sungguh penting. Waktunya harus didedikasikan untuk rakyat. Bukan sebaliknya, mereka melakukan banyak tindakan yang mencederai integritasnya seperti korupsi, menerima suap, tindak pidana pencucian uang, asusila, dan lain-lain yang kerap menjadi hiasan pemberitaan media hampir sepanjang masa.kata andrei

Seperti dikatakan Andrei,bahwa seharusnya anggota DPR / DPRD menggunakan aspirasi, suara, dan pandangan masyarakat khususnya dari dapil untuk menjadi panduan kerja.

“Karena mereka wakil rakyat, bukan jalan dengan logikanya sendiri. Sehingga yang ada adalah masyarakat ditinggal dan mereka jalan dengan logika dan pendekatan yang mereka anggap benar dalam versi mereka.

Aneka harapan yang ditanam kan dimasyarakat terhadap anggota parlemen baru lebih merupakan bentuk dari harapan-harapan lama dan semu.

Baca Juga:  Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Berbagai harapan itu tidak bisa diwujudkan sesuai janji janji mereka,Di tengah tingginya harapan, kegagalan mewujudkan harapan akan membawa kekecewaan demi kekecewaan selama ini, Agar masyarakat tidak terus dikecewakan, anggota parlemen terpilih secepatnya menyiapkan diri secara lebih baik.

Semangat aji mumpung selayaknya ditanggalkan, juga motif mencari kekayaan dan ketenaran. Pelajaran terpenting dari hadirnya muka-muka baru di parlemen terletak dari tenggelamnya muka-muka lama.

Politisi lama tak akan pernah atau jarang diminati masyarakat. Seperti cara mereka selama ini yang memperlakukan rakyat hanya sebatas angka, kini kiprah dan prestasi mereka tak akan diingat. Di Indonesia, politik bukan pekerjaan yang menimbulkan rasa hormat, justru saat pekerjaan itu tidak lagi dilakukan mereka hanya memberikan harapan semu dan ekpatasi masyarakat negatif terhadap mereka.

Menuntup obrolan andrei mengucapkan Selamat Berkerja bagi anggota yang dilantik, pesan Andrei. (*)

Berita Terkait

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah
Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Berita Terbaru

Kualitas udara di wilayah Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terpantau berada pada kategori tidak sehat, Jumat 18 September 2026, pagi.

Banyuasin

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:05 WIB

Suasana di sebuah rumah di kawasan Parit 9, Desa Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, mendadak berubah menjadi tempat kejadian perkara berdarah, Kamis 17 September 2026.

Banyuasin

Petani di Banyuasin Tewas di Tangan Anaknya Gegara Lahan

Kamis, 17 Sep 2026 - 20:33 WIB

Ilustrasi MENELAAH KATA,

Sastra

MENELAAH KATA, “KARENA RINDU”

Kamis, 17 Sep 2026 - 11:52 WIB