SR di Empat Lawang Krisis Air Sedangkan Anggaran Sekolah Rakyat Puluhan Triliun

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Sekolah Rakyat [SR].

Ilustrasi Sekolah Rakyat [SR].

‎WIDEAZONE.com, EMPAT LAWANG | Program Sekolah Rakyat [SR] digelontor anggaran puluhan triliun rupiah, tetapi persoalan paling mendasar justru muncul di salah satu sekolahnya di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, air bersih tidak mencukupi hingga seluruh siswa harus dipulangkan sehingga hal tersebut viral di media sosial.
‎
‎Bahkan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang yang baru menjalankan kegiatan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027 harus menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengembalikan siswa ke rumah masing-masing.
‎
‎

Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan, Bayumi AP MSi.
Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan, Bayumi AP MSi.

Persoalan tersebut sontak memantik respon Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan, Bayumi AP MSi. Ia mengatakan dari keterangan sungguh ironis hal ini muncul ketika pemerintah tengah mengalokasikan anggaran besar untuk memperluas program Sekolah Rakyat.
‎
‎Dalam keterangan Kepala Satuan Pendidikan di lokasi itu, menurut Bayumi mengapa ketersediaan air tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari siswa yang tinggal, sedangkan diketahui ratusan peserta didik tercatat dalam program Sekolah Rakyat [SR]. Mengapa demikian?
‎
‎Ia menyebut dalam Nota Keuangan RAPBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp24,9 triliun untuk penyelenggaraan dan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat. Sementara dalam RAPBN 2027, pemerintah merencanakan Rp32,9 triliun untuk pembangunan 100 Sekolah Rakyat baru dan operasional 166 Sekolah Rakyat.
‎
‎Besarnya anggaran itu, Bayumi berujar, membuat persoalan di Empat Lawang menjadi sorotan serius. Sebab, Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan gedung. Konsepnya merupakan sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
‎
‎”Karena itu, air bersih, sanitasi, listrik, tempat tinggal, makanan, kesehatan, dan fasilitas belajar bukan fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan fundamental agar sistem pendidikan berasrama dapat berjalan,” katanya.
‎
‎Menurutnya, gedung bisa berdiri megah. Tetapi tanpa air, sekolah berasrama tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan ini sekaligus menjadi ujian terhadap kesiapan perencanaan program.
‎
‎”Jangan sampai pembangunan fisik bergerak lebih cepat daripada kesiapan infrastruktur dasar yang menentukan apakah siswa dapat benar-benar tinggal dan belajar secara layak,” sebutnya.
‎
‎Pemerintah daerah bersama instansi terkait, tegas Bayumi harus menyiapkan solusi. Salah satu opsi yang dikaji adalah memanfaatkan sumber air terdekat untuk membangun sistem penyediaan air minum [SPAM]. “Bantuan air tangki dapat menjadi langkah darurat. Namun, untuk sekolah yang dirancang sebagai tempat pendidikan sekaligus hunian siswa, solusi sementara tidak cukup,” ulasnya.

Baca Juga:  Sidang Dugaan Korupsi Semen Baturaja, Pengacara: Pinjaman Rp1,8 Triliun Bukan Era Dede-Jamil

‎”Yang dibutuhkan adalah kepastian sumber air, jaringan distribusi, kapasitas pengolahan, sanitasi, serta anggaran pemeliharaan yang berkelanjutan,” kilahnya.
‎
‎Program Sekolah Rakyat sendiri dirancang untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dengan sistem berasrama. Artinya, standar kelayakan fasilitas dasar harus berjalan beriringan dengan pembangunan ruang kelas dan asrama.
‎
‎Krisis air di Empat Lawang akhirnya membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa matang kesiapan infrastruktur dasar sebelum sebuah Sekolah Rakyat mulai menerima siswa?
‎
‎Sebab, ketika anak-anak sudah datang membawa harapan untuk belajar, kebutuhan paling dasar seperti air bersih semestinya bukan lagi menjadi persoalan yang baru dicari solusinya setelah sekolah berjalan.
‎
‎”Anggaran puluhan triliun harus berujung pada layanan pendidikan yang benar-benar berjalan. Bukan sekadar gedung yang berdiri, tetapi sekolah yang mampu menjamin anak-anak belajar, tinggal, makan, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupan sehari-hari secara layak,” tukas dia.
‎
‎Laporan/Editor Abror Vandozer

Berita Terkait

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan
“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎
Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel
PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif
Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk
Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu
CKN Dorong Instruktur Kuasai AI Lewat Training dan Sertifikasi BNSP
APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:24 WIB

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:53 WIB

“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:53 WIB

Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu

Berita Terbaru