Rekomendasi Diskualifikasi Bawaslu OI, Kapolres OI Imbau Jangan Buat Huruhara

Rekomendasi Diskualifikasi Bawaslu OI, Kapolres OI Imbau Jangan Buat Huruhara
Kapolres Ogan Ilir, AKBP Imam Tarmudi SIK MH

WIDEAZONE.COM, OGAN ILIR –Terkait beredarnya pemberitaan bahwa Badan Pengawas Pemilu Ogan Ilir (Bawaslu OI) mengeluarkan surat rekomendasi diskualifikasi pasangan calon (Paslon) peserta Pilkada Ilyas -Endang menuai sorotan tajam di mata publik.

“Tentunya kami harapkan jelang Pilkada 9 Desember nanti, selalu dalam kondisi aman dan kondusif,” kata Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Ogan Ilir, AKBP Imam Tarmudi SIK MH kepada Wideazone.com dan Zoom Post, Minggu (11/10/2020).

Kapolres OI AKBP Imam Tarmudi mengimbau, janganlah membuat huru hara, karena yang tinggal di Kabuapten Ogan Ilir adalah saudara saudara kita sendiri. “Kami Kepolisian Resort Ogan Ilir (Polres OI) sedang melakukan persiapan persiapan keamanan dalam pelaksanaan Pilkada 9 Desember nanti. Tentunya bagaimana keadaannya kami siap mengamankan dan mensukseskan Pilkada 9 Desember 2020 di Kabupaten Ogan Ilir,” tegasnya.

Sementara, Ketua KPU OI, Massuryati mengungkapkan, bahwa KPU OI sudah menerima laporan dari Bawaslu Ogan Ilir tentang rekomendasi diskualifikasi paslon bupati Ilyas-Endang pada 5 Oktober 2020. “Saekarang KPU Ogan Ilir sedang mempelajari, menggali, dan memerikasa apa yang menjadi rekomendasi dari Bawaslu Kabupaten OI,” terangnya.

Ketu Tim Pemenangan Ilyas-Endang dari PDIP, H Yulian Gunhar SH MH menuturkan, untuk saat ini kami menghargai apa yang menjadi keputusan Bawaslu dan KPU OI, karena proses pilkada masih panjang.

“Sekarang ini kami dari tim Ilyas-Endang masih tetap fokus dalam berkampanye,” jelasnya.

Mengenai rekomendasi diskulaifikasi Bawaslu OI terhadap Paslon Ilyas-Endang, Gunhar menuturkan, kami sudah datang ke kantor Bawaslu, tetapi sayang Ketua Bawaslu sekarang tidak tau rimbanya? “Di kantor tidak ada, di temui di rumahnya pun tak ada, bahkan dihubungi melalui telepon pun tidak diangkat,” tukasnya dengan nada kecewa.

Laporan Rosita Dewi – Editor Abror Vandozer