Habitatnya Terganggu, Harimau Terkam Manusia

Habitatnya Terganggu, Harimau Terkam Manusia
Habitatnya Terganggu, Harimau Terkam Manusia

KEMUNCULAN sejumlah harimau di Desa Tebat Benawa Kecamatan Dempo Selatan, Pagaralam tampaknya makin menjadi teror menakutkan. Akibatnya, warga desa itu tidak berani ke luar rumah untuk melakssnakan tugas sehari-harinya sebagai petani kopi.

Tampaknya harus ada upaya konkret untuk memghalau harimau-harimau itu kembali kehabitatnya. Sebab selama hewan buas itu ke luar dan kelayapan dari habitatnya, sudah ada empat manusia yang menjadi korban keganasan kucing-kucing besar tersebut.

“Kehadiran harimau yang kami sebut “setue” itu sangat menakutkan kami. Warga kami takut ke luar rumah. Saya mengintip dari celah dinding papan rumah saya, ada dua ekor harimau itu berkeliaran di kebun kopi kami,” ujar Zainab (42) dengan roman muka diwarnai perasaan takut.

Sejak munculnya hewan buas yang telah melahap manusia itu, kata Zainab, warga Tebat Benawa takut ke luar rumah untuk beraktivitas di kebun.

Sebab, katanya, hampir 87 persen warga Tebat Benawa ini bekerja sebagai petani kopi. “Sejak mendapat kabar ada warga kami (Yanto) tewas diterkam “setue” hari Senin (2/12/2019 lalu, kami tak berani ke kebun,” ujar Zainab.

Karena harimau-harimau itu tampak berkeliaran di kawasan perkebunan, tak hanya warga Tebat Benawa saja yang diteror oleh kemunculan “neneng” (nenek) tersebut.

Warga Desa Pagardin Kecamatan Dempo Utara pun tak berani beaktivitas ke kebun mereka. Karena itu upaya yang dilakukan untuk menghalau harimau-harimau itu, dilalukan warga bersama petugas dari Polsek Dempo Utara.

Agar harimau-harimau itu tidak masuk ke kawasan ke pemukiman penduduk, maka warga menyalakan api. Kobaran api itulah yang membuat “setue” tak berani mendekat ke Desa Tebat Benawa dan Desa Pagardin.

“Sejak munculnya harimau-harimau itu warga menjadi tidak tenang. Sudah lebih dari sepekan ini kami tidak lagi ke ladang kopi. Kami takut, Pak,” ujar Syaiful saat begadang bersama-sama warga kampung yang lain.

Setelah dihitung, katanya, sudah ada empat korban yang diterkam harimau. Dua di antaranya tewas, sedangkan lainnya luka parah akibat cengkraman kuku harimau-harimau otu.

Mengapa mereka menjadi korban terkaman harimau? Syaiful sendiri belum jelas. Namun dari benerapa keterangan yang ia peroleh, saat berada di kebun, para petani tak menyadari apabila di sekitar tempat mereka bekerja itu sudah ada harimau.

Begitu cepatnya gerakan “neneng” tersebut, sehingga yang twrdenar hanya gesekan daun di semak-semak sekitar ladang. “Ketika bergerak, tiba-tiba harimau sudah mencengkeram korbannya,” urai Syaiful.

Saat Wideazone.com dan ZoomPost turun ke lapangan, suasana Desa Tebat Benawa dan Desa Pagardin tampak sepi. Warga tak berani ke luar rumah.

Menurut warga Desa Tebat Benawa, saat dilakukan penghalauan terhadap hatimau-harimau itu agar kembali ke habitanya di hutan lindung, seekor harimau harus dilumpuhkan karena sangat membahayakan petugas dan warga desa.

“Entah, sampai kapan kami berada dalam hidup yang selalu ketakutan karena teror harimau-harimau itu,” kata seorang warga Tebat Benawa, Somad (32).

Pertanyannya, mengapa habitat harimau yang hidup di kawasan hutan lindung Gunung Dempo itu turun ke lingkungan kehidupan manusia?

 

Menurut pengamat masalah sosial dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Dr Apriyadi Sumo MSi, kelayapannya sejumlah harimau ke lingkungan perkebunan dan menerkam manusia, penyebabnya adalah terjadinya kerusakan yang diakibatkan ulah manusia sendiri.

Akibat dari itu, Apriyadi memprediksi bahwa pergesekan sosial antara manusia dan hewan buas tersebut, disebabkan adanya kerusakan lingkungan akibat ulah manusia sendiri.

“Risiko terjadinya teror harimau terhadap manusia itu, merupakan konsekuensi dari sikap manusia sendiri yang tak disadari barangkali, telah merusak lingkungan hutan lindung,” ujar Apriyadi.

Interaksi sikap manusia yang berusaha mencari atau meluaskan areal perkebunan kopi mereka, telah merusak suasana hutan lindung tersebut. Akibat kerusakan itu harimau-harimau kelayapan ke perkebunan kopi dan pemukiman manusia.

“Sebenarnya, jika suasana habitat hewas buas itu tidak terganggu, justru harimau-harimau tersebut tak akan muncul pemukiman manusia,” katanya.

Menurut Apriyadi, rincian hunian manusia itu tidak sebatas tempat tinggal di perkampungan saja, tapi wilayah perkebunan kopi pun merupakan lokasi pemukiman manusia. Karena itu harus ada upaya y esensial agar hewan-hewan buas tersebut tidak lagi ke luar dari habitanya.

Sementara itu, dari penjelasan Camat Dempo Selatan, Dra Suteri Duaji, terusiknya kucing-kucing besar tersebut, karena banyak warga Desa Tebat Benawa yang berkebun di wilayah hutan lindung.

Lokasi ditemukannya jenazah Yanto (35) tersebut, merupakan wilayah hutan lindung yang merupakan habitat kehidupan harimau Sumatera.

Dari penjelasan yang dikemukakan petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Lahat, harimau di Pagaralam berasal dari dua kawasan, yakni kantung Bukit Dingin seluas 63 ribu hektare, membentang dari Kabupaten Lahat-Kota Pagaralam- Empat Lawang dan kantung Bukit Jambul Patahi seluas 282 hektare.

“Kantung Bukit Jambul Patah ini sangat luas dan terpapar dari Kabupaten Lahat hingga wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Muaraenim.

“Di wilayah kantung Bukit Jambul Patah inilah lokasi ditemukannya jenazah petani kopi bernama Yanto,” ujar petugas BKSD Lahat itu meminta untuk tidak disebut identitasnya.

Jenazah Yanto ditemukan warga pada Senin lalu (2/12/2019) setelah tiga hari tak ada kabar, ia cari warga Desa Benawa.

Menurut Khoiri (42), Yanto pergi ke kebun kopi setelah pamit dengan keluarganya. Sebab masih ada kopi yang telah dipetik dan disimpan di pondok kebunnya.

Namun naas, setelah Yanto berafa di kebun kopinya, ia diterkam harimau dan jasadnya ditemukan hanya separuh. Sedangkan bagian atasnya hanya tinggal tulang-belulang saja. (*)

Laporan Tim Wideazone.com dan ZoomPost
Editor Anto Narasoma