Kurator dan Kedalaman Estetika Seni Rupa

Kurator dan Kedalaman Estetika Seni Rupa
Dr A Erwan Suryanegara MSn

SUMATERA Selatan memiliki budaya besar dan bernilai tinggi. Secara tradisi, itu dapat dilihat dari nilai-nilai estetika masa lalu yang penuh pesan secara konotatif.

Sebagai kurator lukisan di Galeri Taman Budaya Sriwijaya Palembang, Dr A Erwan Suryanegara MSn berpendapat, kekayaan tradisi itu mengandung pemaknaan pesan yang sangat dalam.

“Tradisi masa lalu itu saya catat sebagai kekuatan budaya dalam dua cagak (dua tiang) budaya yang kokoh,” ujar kurator seni rupa yang sering disapa masyarakat seniman Sumsel, Kiai Erwan itu tersenyum, Senin (18/11/2019).

Meski menurut Erwan belum banyak yang bisa menangkap kekayaan tradisi yang ada, namun Kiai Erwan bangga pada seorang pelukis Sumsel, Wawan Tandipulau.

Pelukis Sumsel, Wawan Tandipulau
Pelukis Sumsel, Wawan Tandipulau

Sebab dalam pameran itu ia menyertakan lukisannya yang berestetika kuat, dengan titel “Bertahan”. Lukisan itu berujud gambaran seorang laki-laki telanjang.

Apakah secara konotatif persepsi gambarannya hanya sosok telanjang, bersahaja dengan detil-detil bentuk tubuh manusia (laki-laki) tanpa disertai pesan estetika di balik ketelanjangan itu? “Ow, tidak,” ucapnya.

Sebenarnya, kata Kiai, lukisan itu tak hanya menggambarkan sosok ketelanjangan seorang laki-laki yang menutupi kepala (barangkali malu) sembari mencengkeram bola lampu di tangan kanannya. Sedangkan sebuah apel tergeletak di sisi ruang bawah sebelah kanan tubuh telanjang itu.

“Nah, menurut saya, di balik itu ada pesan kejujuran (ketelanjangan) yang mencerdaskan imajinasi penikmat lukisan sebagai pembelajaran estetika,” katanya.

Untuk memgungkap kejujuran tentang sesuatu ke pada orang memang dibutuhkan keterbukaan sikap (ketelanjangan). Meski relatif yakin dengan tulisan Anto Narasoma berupa ulasan tentang lukisan itu, namun harus diakui bahwa untuk mengungkap kejujuran dibutuhkan sikap terbuka yang kadang-kadang muncul perasaan tak enak hati atau malu.

Dari detil sosok dan gambaran keterbukaan seperti isi tulisan Anto itu, katanya, merupakan pesan Wawan ke pada pecinta lukisan, kurator, kolektor atau orang-orang yang menyukai seni rupa.

“Konteks ketinggian tradisi Sumsel inilah yang bisa jadi dapat mempengaruhi imajinasi dan naluri Wawan Tandipulau untuk ikut serta dalam pameran lukisan itu,” kata Erwan.

Jadi, pengembangan seni rupa yang ada di Sumatera Selatan tentu tak terlepas dari tradisi masa lalu yang begitu tinggi dengan nilai estatika. Contoh nyata dari itu adalah seni rupa megalitik yang ada di bumi Pasemah. Kok begitu?

“Iya. Karena eksistensi seni rupa megalitik di bumi Pasemah itu tak ada duanya di dunia. Selain bentuknya sangat baik dan indah pada zamannya, seni rupa megalitik telah memperlihatkan ketinggian dan keluhuran tradisi masyarakat Indonesia (Pasemah) di masa lalu.

Karena itu Kiai Erwan sangat simpatik dan tertarik melihat perbandingan seni rupa megalitik dengan perkembangan nilai estetika seni rupa saat ini.

Dalam pameran lukisan yang “dikomandoinya” di Galeri Taman Budaya Sriwijaya Palembang itu ada sejumlah pelukis berbakat lainnya, seperti Usha Kismada, Rudi, Piberson, Heri, Askanadi, Suparman dan Arsadi.

Karena nilai-nilai tradisi masa lalu yang berestetika tinggi itu sebaiknya dieksplorasi dengan ilmu pengetahuan seni rupa saat ini yang sudah sangat berkembang begitu baik.

Sebab seperti karya rupa berbentuk rumah limas dan rumah oeloe, misalnya, merupakan satu-kesatuan dari nilai-nilai teradisi masa lalu yang masih ada.

“Jadi, alangkah indahnya apabila bentuk seni rupa rumah limas dan rumah oeloe itu dilukis dalam bentuk gambar seperti lukisan “Bertahan” karya Wawan Tandipulau yang dipamerkan di galeri ini,” ujarnya.

Kiai Erwan yakin para perupa Sumsel memiliki visi dan misi ke depan untuk menggali dan mengeksplorer nilai-nilai keilmuan warisan budaya nenek moyang di Batanghari Sembilan ini.

Dengan mengeksplorasi kekayaan seni rupa megalitik di Pasemah, maka pendekatan tradisi lukis modern akan mampu mengembangkan kekayaan budaya yang sudah dimiliki ratusan tahun lalu.

Sebagai kurator daerah, Kiai Erwan mempunyai kewajiban mengajak dan mengarahkan para pelukis untuk pameran bersama.

Ia juga berharap agar para pelukis itu nantinya akan mampu untuk mempelajari cara mengembangkan seni rupa megalitik yang memiliki nilai sejarah masa lalu, serta pesan-pesan kreatif yang tersembunyi di balik karya megalit tersebut.

Perlu diketahui pula, kata Erwan, dengan selalu belajar dan merasa kurang dengan ilmu yang dimiliki, para pelukis Sumsel akan mampu menciptakan karya-karya berkualitas yang berisi pesan-pesan cerdas.

Jika mampu menyikapi kedalaman estetika pada satu karya, maka hasil karya itu akan muncul sebagai karya lukis yang bernas secara intra estetik. “Bahkan kita pun akan mampu memperkaya lukisan itu dengan kecerdasan ekstra estetika yang diperoleh pelukis dari luar individunya,” kata Erwan.

Jika diperhatikan selama ini, banyak pelukis yang membentuk karyanya sesuai kekuatan instink dirinya. Padahal, melukis itu tak hanya membutuhkan ide, gagasan serta kesempatan dengan kekuatan naluri, tapi dibutuhkan ilmu dan keterampilan memadai.

“Akibatnya mereka kalah cerdas dibanding ide lukisannya sendiri yang seharusnya mampu menyampaikan pesan-pesan estetika ke pada masyarakat,” kata Erwan.

Apabila para pelukis mampu menyikapi nilai-nilai estetika yang kompleks, maka pelukis akan bisa berkarya sesuai ekstra estetika yang diperoleh dari luar dirinya.

Terkait bentuk seni rupa megalitik Pasemah, kata Erwan, para peneliti yang didatangkan dari negeri Belanda menyatakan bahwa corak seni rupa itu bentuk peninggalan dan warisan Hindu.

Namun sejak kehadiran ilmuwan Belanda Van Der Hoop, pernyataan itu terbantahkan. Menurut Hoop, seni rupa megalitik merupakan kakayaan tradisi asli masyarakat Sumatera Selatan (Pasemah).

Karena Erwan meminta agar kekayaan seni ini harus tetap terjaga, terutama yang banyak terpapar di persawahan harus diselamatkan dari orang-orang yang tak memahami keluhuran dan kekayaan tradisi tersebut. (*)