Dewan Kehormatan Seniman, Efektifkah bagi Seniman?

Dewan Kehormatan Seniman,  Efektifkah bagi Seniman?
Gambar Ilustrasi.net

MENGHIMPUN seniman dan budayawan itu ternyata tidak segampang membalikan telapak tangan. Karena ego sentris dan ketidakcocokan satu dengan yang lainnya, terkadamg menghambat upaya mulia ini.

Selama ini, organisasi kesenian hanya mengalokasi teman-teman seniman yang dikenal saja. Padahal banyak seniman yang bertebat di sejumlah tempat yang masih belum mendapat ruang perhatian.

Karena itu banyak pihak mengatakan, apakah sikap pengelola lembaga kesenian itu “sudah adil” untuk mengayomi para seniman yang bertebaran di berbagai tempat?

Terkait persoalan itu, ada gagasan dari seniman senior, yang sehari-harinya bekerja di TVRI stasiun Palembamg, Haeru Nasri, mengajukan wacana untuk membentuk Dewan Kehormatan Senimam.

Dewan ini diprogreskan untuk mengalokasi seniman-seniman yang belum terpedulikan sejak sejumlah organisasi kesenian didirikan.

“Selama ini, banyak seniman di berbagai kampung yang belum dilirik. Padahal kemampuan mereka berkesenian sangat bagus. Karena karya-karya mereka yang dihasilkan tak kalah dibanding karya seniman yang ada di Jakarta, misalnya, ” ujar Haeru, Jumat (29/3/2019).

Dengan segala gagasan dan niat yang kuat, Haeru menghubungi seniman kawakan, seperti Anwar Putra Bayu, Anto Narasoma, Yai Beck, Yudhie Syarofi, Suharno Manaf, serta seniman lainnya.

Upaya itu dilakukan Haeru untuk menyamakan persepsi, dibentuknya Dewan Kehormatan Seniman. Lantas, apakah upaya itu akan menghasilkan kesepakatan?

Seperti dikatakan sebelumnya, untuk menyamakan persepsi para seniman itu tidaklah semudah menadakan siulan.

Sebab belum dilakukan pertemuan menyeluruh antarpara seniman mengenai pembentukan Dewan Kehormatan Seniman. Sebab masing-masing seniman mempunyai kehendak dan pandamgan yang berbeda.

Jika Dewan Kehormatan Seniman itu sudah terbentuk, Kepala Taman Purbakala Bukit Seguntang, Chairul bersedia menampung gagasan yang baik untuk pengembangan nilai seni dan budaya di Sumatera Selatan.

“Jika Dewan Kehormatan Seniman sudah dibentuk, silakan kreativitasnya dilaksanakan di Taman Purbakala Bukit Seguntang ini, ” kata Chairul.

Jika dipertimbangkan, alasan Haeru Nasri untuk membentuk organisasi kesenian tesebut memamg sesuai logika. Karena banyak seniman Sumsel yang berkualitas dalam karyanya belum diajak berkiprah untuk mengembangkan nilai kesenian di daerah ini.

Misalnya, banyak pengamen jalanan yang ketika bermain musiknya cukup berbakat. Sedangkan pemain organ tunggal yang berusaha mengembangkan lagu-lagu dangdut dan Melayu, instrumennya sangat berkualitas. Apakah bakat yang baik ini akan diabaikan saja? Karena itu Haeru Nasri mencoba menggagas organisasi kesenian tersebut untuk memberi ruang kreativitas bagi para pemusik itu.

Harus diakui, banyak pemain organ tunggal yang sebelumnya bergabung dalam grup musik dangdur dan Melayu di era tahun 1970-an.

Apakah merreka ini bukan seniman? Perayaan itulah menggugah perhatian Haeru Nasri. Dalam rapat perdana dengan kalangan terbatas, Haeru segera mendaftarkan eksitemsi Dewan Kehormatan Seniman ke Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) agar memperoleh legalitas sebagai organisasi resmi para seniman di Sumatera Selatan.

Gagasan pembentukan Dewan Kehormatan Seniman, merupakan upaya yang cerdas untuk menghimpun seniman dengan berbagai medianya.

Misalkan, pelukis, pemusik, pemain teater (tradisonal-modern), sastrawan, pemain dul muluk, penenun kain songket, tari serta para seniman dengan media yang berbeda.

Menurut Anwar Putra Bayu, seniman dengan media apapun, selalu menggunakan perasaannya (feel) untuk memgekspresikan karyanya. Tujuan karya itu untuk menyampaikan pesan di dalam karyanya.

“Wadah dasarnya adalah estetika. Karena itu karya tang dihasilkan berkaitan dengan penyampaian pesan, ” ujarnya.

Karena itulah seniman apapun unsur yang diekspresikan bertujuan penyampaian pesan karyanya.

Karena itu pembentukan
Dewan Kehormatan Seniman ini perlu mendapat tanggapan dari para seniman. “Sebab selain berkepentingan untuk memyatukam seniman yang ada, tampaknya Haeru cuma memiliki kepentingan dari seniman untuk seniman, ” kata Bayu.

Jika tujuannya memang itu, sebaliknya para senimam dapat mempertimbangkannya. Namun harus dicatat, keberadaannya tidak merusak nilai organisasi seniman lainnya yang sudah lebih dahulu eksis di masyarakat seniman. (anto narasoma)