banner 2560x598

banner 2560x598

Hendardi Desak Menteri BUMN Tuntaskan Konflik Lahan Petani Kampar

  • Bagikan
Disna Riantina dan Erik Sepria (Pengacara Publik Keadilan Agraria - Setara Institute) bersama tim Satgas Mafia Tanah Bareskrim Polri melakukan penyidikan dan pengumpulan data terhadap lahan masyarakat di Kampar, Riau.
Disna Riantina dan Erik Sepria (Pengacara Publik Keadilan Agraria - Setara Institute) bersama tim Satgas Mafia Tanah Bareskrim Polri melakukan penyidikan dan pengumpulan data terhadap lahan masyarakat di Kampar, Riau.
banner 468x60

Obsesif Kuasai 2050 Hektare Kebun Petani

WIDEAZONE.com, JAKARTA | Sebanyak 977 yang terhimpun dalam Koperasi Petani Sawit Makmur (Kopsa M) dan Tim Advokasi Keadilan Agraria-SETARA Institute melaporkan PTPN V ke pada Satgas Mafia Tanah Bareskrim Polri dan Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan penyerobotan tanah.

Hal itu disampaikan Ketua Setara Institute Hendardi dalam siaran pers yang dituangkan melalui pesan elektronik redaksi, Rabu (8/9/2021).

“Akan menjadi pembuka kotak pandora buruk rupa tata kelola PTPN V, yang sebelumnya tidak pernah terusik, khususnya kemitraan yang tidak setara antara PTPN V dengan petani-petani plasma di Kampar, Riau,” ujarnya.

Dikatakan Hendardi, upaya 997 petani memperjuangkan haknya yang meminta pertanggung jawaban PTPN V dalam pembangunan kebun gagal dan beralihnya kepemilikan lahan petani, telah meningkatkan ancaman kepada para pengurus Kopsa M, pekerja kebun dan petani. “Apalagi Bareskrim Polri telah menyelesaikan pemeriksaan awal terhadap 37 saksi pada 30 Agustus-3 September 2021. Setra Institute mengapresiasi langkah Polri yang cepat merespon pelaporan petani,” jelasnya.

Serangan PTPN V terhadap petani, sambung Hendardi, pertama, berupa tuduhan penggelapan penjualan hasil kebun yang sebenarnya milik petani, kedua menyandera dana lebih dari Rp3 milyar milik petani atas penjualan buah kepada PTPN V, ketiga mengadudomba petani dengan membentuk kepengurusan koperasi abal-abal.

Ketua Setara Institute, Hendardi (tengah), Koordinator/Pengacara Publik Keadilan Agraria-Setara institute Disna Rinatin, Erik Sepria selaku Pengacara Publik Keadilan Agraria-Setara institute
Ketua Setara Institute, Hendardi (tengah), Koordinator/Pengacara Publik Keadilan Agraria-Setara institute Disna Rinatin, Erik Sepria selaku Pengacara Publik Keadilan Agraria-Setara institute

“Keempat, upaya-upaya pengambilan kantor dan properti koperasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan, kelima melumpuhkan pengurus Kopsa M periode 2016-2021 yang sah dan legitimate dengan intervensi yang melawan hukum dan menggunakan tangan-tangan alat negara, termasuk menggunakan alat negara memaksa pengesahan pengurus koperasi tandingan yang dibentuk oleh PTPN V,” paparnya.

Ia juga menuturkan seerangan membabi buta yang dilakukan PTPN V ini telah melengkapi dugaan tata kelola yang tidak akuntabel PTPN V yang bertindak sebagai pendamping koperasi dan petani dengan menggelembungkan utang petani yang bersumber dari pinjaman Bank Mandiri, hingga kini mencapai lebih 150 miliar. “Modus ini akan berujung pada potensi perampasan 2050 hektar kebun petani yang dijaminkan di Bank Mandiri,” punkasnya.

Sementara, Pengacara dari Tim Advokasi Keadilan Agraria-Setara Institute Erik Sepria meminta kepada bapak Menteri BUMN Erick Thohir wajib bertindak dan memerintahkan PTPN V untuk menghentikan cara-cara bisnis BUMN yang bertentangan dengan semangat membangun BUMN yang bersih, dan bertentangan dengan semangat Presiden Jokowi yang justru menggalakan reforma agraria, agar petani-petani memiliki akses tanah untuk penghidupan.

“Cara-cara yang diperagakan PTPN V adalah cara purba bisnis BUMN sebagaimana dilakukan di masa lalu yang tidak berorientasi pada perlindungan rakyat dan menggunakan alat-alat kekuasaan untuk memproteksi kepentingan bisnisnya. Padahal, BUMN diciptakan untuk membangun negeri, termasuk di dalamnya menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan rakyat,” tegas Erik.

Ia juga mendesak Kapolri dan Ketua KPK untuk menindaklanjuti laporan sebagai bentuk upaya hukum yang dilakukan oleh petani yang tergabung dalam koperasi petani sawit makmur mandiri (Kopsa-M).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *