banner 2560x598

banner 2560x598

Debi Jalani Hukuman dengan Pasrah, GRAK: Tolak Ketidakadilan!

  • Bagikan
Koordiantor Gelora Rakyat Akan Keadilan Fini Aria Ismail memberikan keterangan persnya soal kasus hukum yang mendera Debi Destiana [27], di Palembang, Jumat [14/1/2022]
Koordiantor Gelora Rakyat Akan Keadilan Fini Aria Ismail memberikan keterangan persnya soal kasus hukum yang mendera Debi Destiana [27], di Palembang, Jumat [14/1/2022]
banner 468x60

WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Atensi dan dukungan moral terhadap Debi Destiana [27], terpidana kasus Narkoba, Palembang, Sumatera Selatan yang divonis hakim delapan tahun penjara terus berdatangan.

Kali ini, Gelora Rakyat Akan Keadilan [GRAK] mendesak agar Debi dibebaskan, karena dia tidak bersalah.

“Vonis delapan tahun terhadap Debi merupakan keputusan yang janggal. Sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum perempuan kami menolak bentuk ketidakadilan yang menderanya [Debi],” kata Fini Aria Ismail selaku Koordinator GRAK dalam keterangan persnya di Palembang, Jumat [14/1/2022].

Fini menganggap putusan Hakim ke pada Debi tak memenuhi rasa keadilan, sebab dalam fakta persidangan tidak ditemukan bukti yang cukup kuat atas dakwaan terhadap terdakwa, bahkan terjadi dissenting opinion dalam pengambilan keputusan majelis hakim. “Kami mendesak agar Debi dibebaskan karena tidak bersalah,” ungkapnya dengan suara lantang.

Pihaknya, ujar Fini, mendukung penuh upaya penegakan hukum dalam memberantas peredaran narkoba dengan menghukum berat mereka yang terbukti bersalah. Namun, dirinya menilai tidak berarti semua yang duduk di kursi terdakwa adalah orang yang bersalah dan perlu dibuktikan dalam persidangan.

“Tidak ada alat bukti yang kuat yang menyebutkan Debi berperan sebagai bendahara. Transfer uang yang disangkakan sebagai aliran transaksi narkoba juga tidak terbukti, uang itu adalah pinjaman gadai sertifikat rumah,” sebutnya.

Menurutnya, Debi saat ini terpaksa [pasrah] harus menjalani hukuman untuk hal yang tidak dilakukannya. Diketahui, tim penasihat hukum telah mengajukan banding atas putusan hakim.

“Info yang kami terima, putusan hakim yang kami anggap janggal ini akan dilaporkan ke Mahkamah Agung dan Komisi III DPR RI. Kami mendukung penuh Langkah tersebut,” pungkasnya.

Terdakwa kasus narkoba, Debi Destiana, sebelumnya merupakan bidan berstatus pegawai honorer yang bekerja di RSUD Siti Fatimah Palembang. Debi diadili bersama ketiga anggota keluarganya Mat Geplek [52], Faridah [56] dan Marcelia [40].

Dalam amar putusan, majelis hakim menyatakan para terdakwa terbukti bersalah dengan hukuman tujuh tahun penjara untuk Mat Geplek dan delapan tahun penjara untuk tiga terdakwa lainnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *